Senin, 01 Desember 2014

Genesa Diamond



                                                                         GENESA DIAMOND

        Intan?Siapa yang tak tergoda dengan mineral yang satu ini. Intan atau berlian merupakan salah satu mineral batu mulia yang banyak dicari orang karena harganya yang mahal dan keindahannya. Lalu bagaimana sebenarnya proses pembentukan mineral intan?.



              Akhir-akhir ini banyak sekali berita atau artikel yang menyebutkan bahwa intan berasal dari metamorfosis batubara dan teori tersebut diragukan kebenarannya. Intan jarang sekali ditemukan keterdapatannya bersamaan dengan batubara. Kenyataannya menurut para ahli mineralogy, intan tertua berumur lebih tua daripada mahluk hidup tertua di bumi (tumbuhan asal batubara). 


Kebanyakan deposit intan yang bersifat komersil berasal dari erupsi gunung api yang memindahkan intan dari bawah hingga ke atas permukaan bumi. Lapisan pada mantel tempat terdapatnya deposit berlian dinamakan Diamond Stability Zone. Deposit intan tersebut dapat mengalir hingga ke atas permukaan kerak bumi dengan cepat ketika erupsi terjadi. Jenis batuan yang mengandung intan adalah xenolith.

2. Subduction Zone Diamonds
Zona subduksi terdapat di batas pertemuan lempeng samudera dan lempeng benua, dimana salah satu lempeng masuk ke dalam lapisan mantel bumi. Ketika lempeng tersebut masuk ke mantel, maka tekanan dan suhu akan meningkat dan membentuk mineral intan. Mineral intan yang bersifat komersil jarang ditemukan pada proses pembentukkan seperti ini. Deposit intan jenis ini sangat kecil dan tidak cocok untuk diolah menjadi perhiasan komersil.

3. Asteroid Impact Diamonds
Keterdapatan intan ditemukan di sekitar lubang bekas tabrakan asteroid. Bumi telah dijatuhi banyak asteroid selama sejarah pembentukkannya pada masa lampau. Tekanan dan panas yang dihasilkan tumbukan asteroid cukup untuk membentuk mineral intan. Mineral intan tipe ini tidak bagus untuk diolah secara komersil.

4. Diamond Formed in Space
Keterdapatan intan juga ditemukan pada meteorit. Para ahli berpendapat intan tersebut terbentuk di luar angkasa akibat tabrakan sesama asteroid atau kejadian lainnya. Intan pada meteorit sangat kecil dan tidak cocok untuk diolah secara komersil.







Batubara



Batubara
    A.PROSES TERBENTUKNYA BATU BARA
Batubara berasal dari tumbuh-tumbuhan yang telah mati. Proses terjadinya batu bara disebut proses inkolen (air yang ada di dalamnya dan bahan-bahan yang mudah menguap, Nitrogen makin kecil sedangkan kadar zat arang atau karbon bertambah presentasenya).
Setelah tumbuhan mati, proses penghancuran tidak dapat memainkan peranannya karena air ditempat matinya tumbuh-tumbuhan tersebut tidak atau kurang mengandung oksigen. Oleh karena itu, tumbuh-tumbuhan tidak mengalami pembusukan dan kemudian ditimbuni lempung, pasir, kerikil yang akhirnya terjadi proses pembentukan batu bara. Proses tersebut terbentuk melalui beberapa tingkatan:
1.      Stadium 1 : Proses Biokimia/ Humifikasi, sisa-sisa tumbuhan menjadi keras karena beratnya sendiri sehingga tumbuh-tumbuhan berubah warnanya tetapi masih utuh bentuknya karena tidak ada pengaruh suhu dan tekanan yang menjadi gambut atau Turf.
2.      Stadium 2: Proses Metamorfosa, suhu dan tekanan bertambah tinggi dalam kurun waktu yang  lama maka Turf berubah menjadi batu bara muda atau Lignit.
3.      Stadium 3: Pembentukan batuan berharga yaitu terjadinya batu bara, yang dapat dilihat struktur tumbuhannya. Jika temperatur tekanan meningkat terus, maka akan terjadi Antrasit .

Kelas dan jenis batu bara
Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan waktu, batu bara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit dan gambut.
§  Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik,    mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%.
§    Bituminus mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya. Kelas batu bara yang paling banyak ditambang di Australia.
§   Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.
§   Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang mengandung air 35-75% dari beratnya.
§    Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.

B. Persebaran Batubara di Indonesia
               Dari peta diatas bisa dilihat potensi batubara di Indonesia sangatlah melimpah, ada sekitar 18 provinsi yang menyimpan potensi batubara, yaitu Nanggroe Aceh Darusalam, Sumatera, Riau, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten,
Jawa Tengah, Jawa Timur, semua provinsi di Kalimantan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua. Sebenarnya jika dimanfaatkan secara seksama maka batubara pun bisa dijadikan sumber energi yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan seperti keperluan idustri, kegiatan rumahan dsb.



C. Proses pengolahan batubara
Ada beberapa macam cara proses pengolahan batubara antara lain sebagai berikut.
1.Gasifikasi (coal gasification)
Secara sederhana, gasifikasi adalah proses konversi materi organik (batubara, biomass atau natural gas) yang biasanya padat menjadi CO dan H2 (synthesis gases) dengan bantuan uap air dan oksigen pada tekanan atmosphere atau tinggi. Rumus sederhananya:
Coal + H2O + O2 -> aH2 + CO
2.Fisher Tropsch proses
Fisher Tropsch adalah sintesis CO/H2 menjadi produk hidrokarbon atau disebut senyawa hidrokarbon sintetik/ sintetik oil. Sintetik oil banyak digunakan sebagai bahan bakar mesin industri/transportasi atau kebutuhan produk pelumas (lubricating oil).
(2n+1)H2 + nCO  CnH(2n+2) + nH2O
Hidrogenasi (hydrogenation)
Hidrogenasi adalah proses reaksi batubara dengan gas hydrogen bertekanan tinggi. Reaksi ini diatur sedemikian rupa (kondisi reaksi, katalisator dan kriteria bahan baku) agar dihasilkan senyawa hidrokarbon sesuai yang diinginkan, dengan spesifikasi mendekati minyak mentah. Sejalan perkembangannya, hidrogenasi batubara menjadi proses alternativ untuk mengolah batubara menjadi bahan bakar cair pengganti produk minyak bumi, proses ini dikenal dengan nama Bergius proses, disebut juga proses pencairan batubara (coal liquefaction).
Pencairan Batubara (coal Liquefaction)
Coal liquefaction adalah terminologi yang dipakai secara umum mencakup pemrosesan batubara menjadi BBM sintetik (synthetic fuel). Pendekatan yang mungkin dilakukan untuk proses ini adalah: pirolisis, pencairan batubara secara langsung (Direct Coal Liquefaction-DCL) ataupun melalui gasifikasi terlebih dahulu (Indirect Coal Liquefaction-ICL). Secara intuitiv aspek yang penting dalam pengolahan batubara menjadi bahan bakar minyak sintetik adalah efisiensi proses yang mencakup keseimbangan energi dan masa, nilai investasi, kemudian apakah prosesnya ramah lingkungan sehubungan dengan emisi gas buang, karena ini akan mempengaruhi nilai insentiv menyangkut tema tentang lingkungan. Undang-Undang No.2/2006 yang mengaatur tentang proses pencairan batubara.
D. Komoditi di Pasar Nasional dan Internasional
Batubara, sesuai namanya, memang sedang menjadi komoditas hot di Indonesia sekaligus penghasil devisa cukup besar. Sebagai salah satu negara pengekspor batubara terbesar dunia, Indonesia menjadi referensi harga batubara dunia. Saat ini, sudah ada indeks batubara untuk harga batubara di Indonesia, yaitu Indonesian Coal Index (ICI) yang dikeluarkan oleh Coalindo Energy Indonesia. Selain itu, setiap bulan pemerintah melalui Dirjen Mineral dan dan Batubara (Minerba) mengeluarkan harga patokan batubara (HPA). Kendati begitu, referensi yang sudah ada belum dapat mencukupi keperluan para pelaku pasar batubara.
Harga batubara cukup fluktuatif mengikuti pergerakan harga minyak bumi sebagai sesama komoditas penghasil sumber energi. Fluktuasi harga batubara membuat penentuan harga batubara Indonesia dalam kontrak jual beli menjadi semakin tidak mudah, karena keterbatasan referensi harga spot atau harga saat ini, yang diambil dari ICI atau dari HPA yang dikeluarkan sebulan sekali. Akibatnya, sulit membuat kontrak jual beli batubara dengan jangka waktu satu tahun menggunakan hargaspot ICI atau harga bulanan HPA. Jika referensi harga batubara untuk kurun waktu tertentu tersedia, penentuan harga batubara Indonesia dalam kontrak jual beli akan jauh lebih mudah.
Di Amerika Serikat (AS) dan Eropa, para pelaku pasar batubara tidak sulit untuk mendapatkan referensi harga batubara untuk kurun waktu tertentu karena sudah ada perdagangan kontrak berjangka batubara di Intercontinental Exchange (ICE) dan Chicago Mercantile Exchange (CME) dengan bulan kontrak atau periode yang beragam sampai enam tahun ke depan. Harga yang terjadi di bursa berjangka seperti ICE dapat menjadi referensi harga batubara yang dipercaya, karena harga yang terbentuk berasal dari banyak pembeli dan penjual yang tidak saling mengenal dan terjadi secara transparan wajar dan adil (fair).
Penggunaan harga batubara spot ataupun HPA dalam kontrak batubara dengan jangka waktu satu tahun juga dapat membuat para pelaku pasar batubara maupun pemerintah kehilangan potensi pendapatan. Misalnya, ada seorang produsen batubara terikat kontrak satu tahun dengan pembeli batubara pada harga US$ 120 per ton. Jika setelah enam bulan kontrak berjalan harga batu bara naik menjadi US$ 130 per ton, produsen batubara merasa dirugikan. Dengan harga US$ 130 di pasar, lebih baik jika produsen batubara menjual di pasar daripada menjual sesuai kontrak, karena harga di kontrak lebih rendah dari harga di pasar.
Pemerintah juga akan kehilangan potensi kenaikan pendapatan royalti yang diterima. Seperti diketahui, dari tingkat keuntungan yang diperoleh atas hasil penjualan batubara, pemerintah berhak atas 45%. Penjualan dengan harga US$ 130 akan menghasilkan royalti yang lebih besar bagi pemerintah daripada penjualan dengan harga US$ 120.

Selasa, 06 Mei 2014

Diagenesa Batuan Sedimen

Diagenesa Batuan Sedimen

            Material  sedimen yang baru terendapkan dicirikan oleh material lepas, tidak, kompak, porositas tinggi, dan kandungan air yang tinggi pula. Pengendapan yang terus berlangsung, terutama bersamaan dengan penurunan cekungan sedimentasi, menyebabkan sedimen yang lebih muda akan memberikan tekanan pada sedimen yang ada dibawahnya. Proses ini akan diiringi oleh perubahan sifat fisik dan kimia sedimen akibat tekanan dan perbahan temperature pada lingkungan yang semakin dalam. Perubahan tersebut akan menyebabkan terjadinya proses kompaksi dan litifikasi pada material sedimen sehingga terjadilah perubahan dari material sedimen lepas menjadi batuan sedimen. Seua proses yang mengakibatkan perubahan sedimen menjadi batuan sedimen disebut diagenesis.

Proses diagenesis meliputi kompaksi sedimen, yaitu termampatnya butir sedimen satu terhadap yang lain akibat tekanan dari berat beban di atasnya. Disini volume sedimen berkurang dan hubungan antar butir yang satu dengan yang lain menjadi rapat. Kemudian ada sementasi yaitu turunnya material-material di ruang antar butir sedimen dan secara kimiawi mengikat butir-butir sedimen dengan yang lain. Setelah itu terjadi rekristalisasi yaitu pengkristalan kembali suatu mineral dari suatu larutan kimia yang berasal dari pelarutan material sedimen selama diagenesa atau sebelumnya. Autigenesis yaitu terbentuknya mineral baru dilingkungan diagenesa, sehingga adanya mineral tersebut merupakan partikel baru dalam suatu sedimen. Dan yang terakhir dalam proses diagenesa adalah metasomatisme, yaitu pergantian material sedimen oleh berbagai mineral autigenik, tanpa pengurangan volume asal.